Senin, 16 Januari 2012

SAYA NGGAK GILA, CUMA AGAK NEKAT :D

Sebetulnya saya nggak gila. Saya cuma agak nekat. Hmmm.. ok deh, bukan agak nekat.. tapi sangat nekat! Dalam beberapa hal, kadar nekat saya memang di atas rata-rata orang kebanyakan. Ini menurut survey tidak resmi yang dilakukan oleh Oom Jambrong, keponakanannya Mbah Jenggot. Siapa tuh? Nggak usah dipikirin, saya juga nggak kenal kok. Tadi asal nyebut aja hahahahaa..

Selama 10 tahun terakhir ini saja sudah banyak hal nekat yang saya lakukan, yang orang lain mungkin sekedar memikirkannya saya ogah. Beberapa di antaranya yaitu
1. Nekat berhenti kerja untuk bikin usaha. Orang lain umumnya akan menunggu sampai usaha yang baru dimulai berjalan dan bisa dijadikan sandaran dulu baru memutuskan berhenti kerja, saya dan suami sudah keluar kerja duluan sebelum usaha berjalan.

2. Nekat terjun ke bisnis penerbitan dan distribusi majalah padahal nggak punya modal besar dan nggak punya pengalaman sebagai pengusaha. Saya nggak memulai usaha dengan menjalankan usaha yang sederhana dulu, tapi langsung hajar bleh menerbitkan majalah musik berskala nasional dan menangani sendiri distribusinya.

3. Nekat memilih menerbitkan majalah gitar, padahal nggak bisa main gitar. Biasanya orang memilih usaha di bidang yang dikuasainya atau yang menjadi hobinya. Saya nggak hobi main gitar dan menguasai instrument ini, tapi cuek aja memilih usaha penerbitan majalah gitar. Biarin aja. Pedagang telor juga nggak harus bisa bertelor kan? :p

4. Nekat bikin empat majalah musik dalam waktu tiga tahun padahal bikin usaha aja masih belajar. Biasanya pengusaha besar yang berani melakukan ekspansi usaha dalam waktu singkat karena didukung modal besar dan pengalaman. Saya nggak punya dua hal itu tapi saya membalik cara berpikir saya; ah, kalau majalah berkembang jadi banyak kan nanti saya jadi punya banyak uang untuk modal juga, kalau terbiasa bikin beberapa majalah, otomatis kan saya jadi banyak pengalaman juga hehe..

5. Nekat bikin berbagai acara gitar, padahal –sekali lagi- nggak bisa main gitar dan nggak punya pengalaman menjadi EO. Daripada membuang waktu untuk belajar dulu baru praktek, saya langsung praktek aja sambil belajar. Lebih cepat kita menguasai apa yang harus dipelajari kalau langsung dipraktekkan, daripada otak cuma dijejalli dengan teori tapi nggak praktek-praktek. Itu kalau menurut saya lho.. :D

6. Nekat bikin acara di suatu kota, padahal sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke kota itu. Justru saya bikin acara di kota itu biar pernah menginjakkan kaki ke sana!

7. Nekat buka kursus musik padahal tenaga pengajarnya belum ada. Siapa bilang bikin kursus musik yang paling penting ada tenaga pengajarnya dulu? Tenaga pengajar penting, tapi ada segambreng kalau nggak ada muridnya tetap aja nggak bisa jalan kursusnya. Kalau buat saya, lebih gampang mencari tenaga pengajar kalau sudah ketahuan ada murid yang mau mendaftar kursusnya.

8. Nekat buka toko musik padahal belum ada tokonya, belum punya stock barang yang mau dijual, sama sekali nggak ngerti management toko, bahkan belum paham produk yang akan dijual. Ah, semua itu kan bisa belajar sambil jalan. Yang penting saya tahu jualan alat musik ada pasarnya. Pakai ilmu bodoh-bodohan aja deh, barang sebagus apa pun pasti susah dipasarkan kalau nggak ada pasarnya, nggak ada pembelinya. Tapi kalau pembelinya udah ketahuan ada, kita tinggal meningkatkan kualitas dan pelayanan agar produk kita bisa diserap dengan baik oleh pasar.

9. Nekat sok akrab sama orang-orang yang bisa menginspirasi saya untuk menjadi lebih maju. Orang ini bisa siapa saja; sesama pemilik usaha, karyawan perusahaan yang masih berhubungan dengan usaha saya, temannya teman saya, atau bukan siapa-siapa sekalipun, terutama yang sikap mental dan pola pikirnya bisa menambah wawasan saya.

10. Nekat mengajak kerja sama orang yang nggak dikenal, bahkan berani-beraninya memutar balik cara pandang mereka kalau yang diajak kerja sama nggak langsung mau, dan masih banyak lagi

Kalau saya tulis semua, daftar kenekatan yang pernah saya lakukan pasti panjangnya nggak kira-kira. Sebagian hal nekat yang pernah saya lakukan sudah saya ceritakan di buku pertama saya, ‘Bermain Dengan Uang’. Yang lain-lainnya, nanti saya tulis satu per satu ya. Siapa tahu ada yang mau ikut-ikutan nekat. Nggak ada salahnya kok kita nekat-nekat dikit selama nggak merugikan, menyusahkan, dan membahayakan orang lain. Dan juga, sekali lagi, nggak bertentangan dengan hukum negara dan hukum agama. Yang penting kita siap menanggung resiko dari setiap kenekatan yang kita lakukan. Kalau nggak siap dengan resikonya, ya nggak usah nekat. Gampang kan?

Dalam hal nekat-nekatan saya merasa sungguh beruntung karena punya teman yang mau selalu diajak nekat. Dia adalah suami saya tercinta, Eka Venansius. Kalau saya lagi kumat dan butuh teman untuk diajak nekat-nekatan, dialah orang yang paling setia mendukung dan menemani saya, sekaligus memegangi tangan saya kalau tiba-tiba saya jatuh karena salah perhitungan atau faktor-faktor lain yang tak selalu bisa saya kendalikan. Percaya deh sama saya, orang bisa lebih nekat kalau ada temennya. Kita jadi bisa berbagi resiko, saling melengkapi kekurangan, sekaligus saling mendorong untuk nekat kalau salah satunya lagi mulai kehilangan semangat untuk nekat. Jadi, salah satu rahasia kenapa dari dulu sampai sekarang saya nekatnya nggak hilang-hilang, tapi justru semakin terpelihara dengan baik, adalah karena ada temannya.

Mau ikutan nekat seperti saya? Gih, cari dulu teman yang mau diajak nekat! Kalau nggak ketemu-ketemu juga, silakan hubungi saya. Kalau nekatnya asyik dan bisa dipertanggungjawabkan, saya mau kok nemenin. Asal jangan nekat ngajak kawin lari apalagi bunuh diri ya! Hehe..

1 komentar:

  1. mba' intan ini baik banget, supel tapi memang sedikit nekat tp saya rasa mba' penuh perhitungan...hehehe...klo ga nekat dan penuh perhitungan kan ga pengusaha ya mba'...sukses terus buat mba' intan teruslah bertelor eh...nekat...hehehe...

    BalasHapus